Jumat, 06 November 2015

NASKAH ESSAI

Kebersihan Sekolah
Devita Nur Anggraeni
6967/717.068
SMK Negeri 5 Malang

Masalah kebersihan yang sering dihadapi oleh sekolah, secara umum, selama ini adalah masih banyak sampah yang berserakan di sembarang tempat. Sampah merupakan material sisa yang dianggap sudah tidak berguna lagi. Sampah dapat berupa organik dan anorganik. Apakah yang dimaksud sampah organik dan anorganik? Sampah organik adalah sampah yang berasal dari organisme seperti, kulit buah-buahan, nasi basi, dan daun. Sedangkan, sampah anorganik adalah sampah yang berasal dari benda mati seperti, botol plastik, aluminium, dan Styrofoam.
Menjaga kebersihan lingkugan sekolah merupakan upaya yang dilakukan untuk menjaga, merawat, dan mengondisikan lingkungan sekolah supaya tetap bersih. Kebersihan lingkungan sekolah sangat berpengaruh terhadap kenyamanan semua warga sekolah, baik siswa, guru, maupun karyawan. Hal itu disebabkan lingkungan yang tidak bersih dapat mengganggu semua aktivitas yang berlangsung. Siswa sulit konsentrasi belajar dan guru kurang fokus mengajar karena banyak sampah di dalam atau di sekitar kelas.
Permasalahan sampah juga menimpa sekolah saya, yakni SMKN 5 Malang. SMKN 5 Malang yang terletak di Jalan Ikan Piranha Atas Malang merupakan salah satu sekolah dengan jumlah siswa yang cukup banyak (kurang lebih 2000 siswa). Jumlah siswa yang demikian itu mengakibatkan sampah yang dihasilkan cukup banyak. Banyaknya sampah tersebut menjadi permasalahan tersendiri. Apalagi, kesadaran akan pentingnya kebersihan masih belum dimiliki semua warga sekolah. Banyak siswa yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Hal itu sekarang telah menjadi kebiasaan. Selain itu, siswa juga meninggalkan sampah di kolong meja. Bahkan dengan sengaja, mereka membuang sampah di pinggir jendela.
Padahal,  mereka  tahu bahwa sampah plastik yang berupa botol apabila dibuang akan membutuhkan waktu  50--100 tahun untuk dapat melebur dengan tanah, sedangkan bungkus makanan  berupa kantong plastik,  yang  hampir setiap hari mereka beli, dapat melebur dengan tanah  memerlukan  waktu  10--20 tahun. Sementara itu, kaleng minuman seperti soft drink membutuhkan waktu 80--100 tahun untuk melebur dengan tanah.
Rendahnya minat siswa dalam membuang sampah pada tempatnya mengakibatkan sampah berserakan di mana-mana. Meskipun begitu, petugas kebersihan  hanya  membersihkan sampah yang ada di lantai kelas atau di luar kelas. Sampah yang ada di dalam meja atau di jendala belum sepenuhnya mendapat perhatian. Di samping itu, guru juga kurang  tegas dalam menegur siswa yang membuang sampah sembarangan.
Mestinya, sampah-sampah tersebut dapat dimanfaatkan oleh warga sekolah. Misalnya sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, sedangkan sampah anorganik misalnya plastik yang dapat didaur ulang atau dimanfaatkan sebagai prakarya. Oleh karena itu, diperlukan adanya  tim kreatif sekolah untuk mengelola sampah.
Kebersihan lingkungan sekolah bukan hanya tanggung jawab siswa, semua warga sekolah harus ikut serta menjaga lingkungan. Kesadaran akan pentingnya kebersihan harus dimiliki oleh setiap individu supaya permasalahan akan kebersihan karena sampah dapat segera diatasi. Kesadaran akan pentingnya kebersihan dimulai dari masing-masing individu.
Sampah dapat menimbulkan dampak positif dan negatif. Dampak positif sampah antara lain pengelolaan sampah yang tepat dapat menghasilkan manfaat seperti sampah organik dapat diolah menjadi pupuk kompos, bahkan menjadi bahan bakar gas atau sampah plastik dapat di jadikan sebagai bahan untuk membuat suatu kerajinan. Dengan demikian, sampah juga dapat dijadikan sebagai pekerjaan. Sedangkan, dampak negatif sampah antara lain sebagai berikut.
1.    Dapat menimbulkan gangguan kesehatan, tumpukan sampah yang tercampur dengan genangan air hujan dapat menjadi bakteri yang dapat menjadi sarang nyamuk sehingga penyakit dapat mudah menyebar. Penyakit yang dapat muncul karena sampai antara lain diare, kolera, dan tifus yang dapat menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur air minum. Selain itu, penyakit demam berdarah dapat meningkat dengan cepat di daerah yang pengelolaan sampahnya kurang memadai.
2.    Sampah organik yang membusuk apabila tidak di kubur dapat menyebabkan pencemaran udara atau bau yang tidak sedap.
3.    Tumpukan sampah yang bau dan kotor dapat mengakibatkan lingkungan kurang enak untuk dipandang.
4.    Menjadi penyebab menipisnya lapisan ozon. Gas karbondioksida yang tercipta ketika adanya proses pembakaran sampah dapat memperbesar kemungkinan penipisan lapisan ozon.
Setelah mengetahui dampak positif dan negatif sampah, seharusnya, kita sadar akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, khususnya lingkungan sekolah tempat kita belajar. Apabila lingkungan sekolah bersih, hal itu akan berdampak bagi warga sekolah antara lain sebagai  berikut.
Ø  Terhindar dari penyakit yang disebabkan lingkungan yang tidak sehat.
Ø  Lingkungan menjadi lebih sejuk.
Ø  Bebas dari polusi udara.
Ø  Air menjadi lebih bersih.
Ø  Warga sekolah,  khususnya guru dan siswa,  lebih tenang dalam menjalankan aktivitas belajar mengajar.
Beberapa cara yang dapat digunakan untuk menjaga kebersihan sekolah anatara lain sebagai berikut.
1.    Rouse (penggunaan ulang), artinya kita dapat menggunakan barang yang pernah digunakan. Misalnya, kemasan botol setelah habis digunakan dapat diisi ulang kembali.
2.    Reduce (mengurangi), artinya mengurangi penggunaan barang yang dapat menghasilkan sampah. Misalnya, mengganti bungkus makanan yang ada di kantin dengan bahan yang berasal dari daun atau kertas.
3.    Recycle (mendaur ulang), artinya untuk mengurangi tumpukan sampah dan pembakaran sampah, kita bisa memanfaatkan sampah untuk membuat kreativitas. Hal itu dapat digunakan untuk menggali kreativitas siswa. Misalnya, sampah plastik dari botol gelas bagian atasnya bisa digunakan untuk membuat tas, sedangkan sampah daun dan sisa makanan dapat didaur ulang menjadi pupuk kompos.
Untuk menanggulangi masalah sampah, SMKN 5 Malang melakukan beberapa tindakan di antaranya seperti berikut.
1.    Menerapkan sistem nol sampah, yaitu setiap hari, diberlakukannya tiket sampah setiap pulang sekolah.  Yang dimaksud tiket sampah adalah  siswa diwajibkan membawa sampah dari lingkungan sekolah untuk dimasukkan ke tempat sampah yang sudah disediakan dan memisahkan antara  sampah organik dan anorganik. Sampah yang berupa plastik dapat didaur ulang untuk dijadikan sebuah kerajinan. Sampah yang berasal dari sisa makanan dan daun kering dapat ditimbun untuk dijadikan pupuk kompos.
2.    Melibatkan guru untuk memberikan pengarahan terhadap siswa akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Karena guru sangat berpengaruh penting bagi siswa, guru diharapkan untuk memberi  wawasan kepada siswa akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya.
3.    Sekolah memasang slogan kebersihan di banyak tempat strategis dalam sekolah. Diharapkan, slogan-slogan tersebut dapat menyadarkan siswa akan pentingnya menjaga kebersihan sekolah.  Hal itu membuktikan bahwa kebersihan sekolah merupakan tanggung jawab seluruh warga sekolah termasuk siswa.
4.    Dibentuknya Tim Peduli Lingkungan untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih dan memberi sanksi  siswa yang membuang sampah sembarangan.
5.    Mengadakan lomba kebersihan antar kelas. Diharapkan,  semua siswa dapat ikut  dan terlibat aktif dalam lomba kebersihan tersebut sehingga diharapkan kesadaran siswa akan muncul dengan sedirinya dalam menjaga dan merawat kebersihan sekolah.
6.    Mengembangkan kreativitas siswa dengan cara memanfaatkan sampah untuk dijadikan sebuah kerajinan tangan yang berupa hiasan.
7.    Mengadakan kerja bakti untuk membersihkan lingkungan yang diikuti oleh seluruh warga sekolah.
8.    Menyediakan tempat sampah di berbagai tempat dengan membedakan jenis sampahnya.
9.    Memberi himbauan kepada kantin dan warung di lingkungan sekolah agar mengurangi  pemakaian kantong plastik.
Dengan menerapkan beberapa langkah tersebut, diharapkan jumlah sampah yang ada di sekolah dapat diminimalkan bahkan, kalau bisa, dinolkan.  Dengan demikian, harapan ke depan SMKN 5 Malang akan menjadi sekolah yang bebas sampah, bersih, asri, dan nyaman. Dampak berikutnya, kegiatan belajar mengajar akan berjalan dengan lancar dan prestasi siswa dapat maksimal.
Sebagai bagian akhir tulisan ini, penulis mengajak kepada seluruh pembaca untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan masing-masing. Marilah, kita ciptakan budaya bersih dalam diri kita. Jagalah,  lingkungan di sekitar kita agar tetap bersih dan terawat karena lingkungan tersebut yang  kelak akan kita  wariskan kepada  generasi mendatang. Kalau bukan kita yang menjaga dan merawat, siapa lagi?