Kebersihan
Sekolah
Devita Nur Anggraeni
6967/717.068
SMK Negeri 5 Malang
Masalah kebersihan yang sering dihadapi
oleh sekolah, secara umum, selama ini adalah masih banyak sampah yang
berserakan di sembarang tempat. Sampah merupakan material sisa yang dianggap
sudah tidak berguna lagi. Sampah dapat berupa organik dan anorganik. Apakah
yang dimaksud sampah organik dan anorganik? Sampah organik adalah sampah yang
berasal dari organisme seperti, kulit buah-buahan, nasi basi, dan daun.
Sedangkan, sampah anorganik adalah sampah yang berasal dari benda mati seperti,
botol plastik, aluminium, dan Styrofoam.
Menjaga kebersihan lingkugan sekolah
merupakan upaya yang dilakukan untuk menjaga, merawat, dan mengondisikan
lingkungan sekolah supaya tetap bersih. Kebersihan lingkungan sekolah sangat
berpengaruh terhadap kenyamanan semua warga sekolah, baik siswa, guru, maupun
karyawan. Hal itu disebabkan lingkungan yang tidak bersih dapat mengganggu
semua aktivitas yang berlangsung. Siswa sulit konsentrasi belajar dan guru
kurang fokus mengajar karena banyak sampah di dalam atau di sekitar kelas.
Permasalahan sampah juga menimpa
sekolah saya, yakni SMKN 5 Malang. SMKN 5 Malang yang terletak di Jalan Ikan
Piranha Atas Malang merupakan salah satu sekolah dengan jumlah siswa yang cukup
banyak (kurang lebih 2000 siswa). Jumlah siswa yang demikian itu mengakibatkan
sampah yang dihasilkan cukup banyak. Banyaknya sampah tersebut menjadi
permasalahan tersendiri. Apalagi, kesadaran akan pentingnya kebersihan masih
belum dimiliki semua warga sekolah. Banyak siswa yang membuang sampah tidak
pada tempatnya. Hal itu sekarang telah menjadi kebiasaan. Selain itu, siswa juga
meninggalkan sampah di kolong meja. Bahkan dengan sengaja, mereka membuang
sampah di pinggir jendela.
Padahal, mereka
tahu bahwa sampah
plastik yang berupa botol apabila dibuang
akan membutuhkan waktu 50--100 tahun untuk dapat melebur dengan
tanah, sedangkan bungkus
makanan berupa kantong plastik, yang
hampir setiap hari mereka beli, dapat melebur dengan tanah memerlukan waktu 10--20 tahun. Sementara itu, kaleng minuman seperti soft drink membutuhkan waktu 80--100 tahun untuk melebur
dengan tanah.
Rendahnya minat
siswa dalam membuang sampah pada tempatnya mengakibatkan sampah berserakan di
mana-mana. Meskipun begitu, petugas kebersihan
hanya membersihkan sampah yang
ada di lantai kelas atau di luar kelas. Sampah yang ada di dalam meja atau di
jendala belum sepenuhnya mendapat perhatian. Di samping itu, guru juga kurang tegas
dalam menegur siswa yang membuang sampah sembarangan.
Mestinya,
sampah-sampah tersebut dapat dimanfaatkan oleh warga sekolah. Misalnya sampah
organik dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, sedangkan sampah anorganik misalnya
plastik yang dapat
didaur ulang atau dimanfaatkan sebagai prakarya. Oleh karena itu, diperlukan
adanya tim kreatif sekolah untuk mengelola sampah.
Kebersihan lingkungan sekolah bukan
hanya tanggung jawab siswa, semua warga sekolah harus ikut serta menjaga
lingkungan. Kesadaran akan pentingnya kebersihan harus dimiliki oleh setiap
individu supaya permasalahan akan kebersihan karena sampah dapat segera
diatasi. Kesadaran akan pentingnya kebersihan dimulai dari masing-masing
individu.
Sampah dapat menimbulkan dampak
positif dan negatif. Dampak positif sampah antara lain pengelolaan sampah yang tepat dapat menghasilkan manfaat seperti
sampah organik dapat diolah menjadi pupuk kompos, bahkan menjadi bahan bakar
gas atau sampah plastik dapat di jadikan sebagai bahan untuk membuat suatu
kerajinan. Dengan demikian, sampah juga dapat dijadikan sebagai pekerjaan. Sedangkan, dampak negatif sampah antara lain sebagai berikut.
1.
Dapat
menimbulkan gangguan kesehatan, tumpukan sampah yang tercampur dengan genangan
air hujan dapat menjadi bakteri yang dapat menjadi sarang nyamuk sehingga
penyakit dapat mudah menyebar. Penyakit yang
dapat muncul karena sampai antara lain diare, kolera, dan tifus
yang dapat menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah
dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur air minum. Selain itu, penyakit demam berdarah dapat meningkat dengan cepat di
daerah yang pengelolaan sampahnya kurang memadai.
2.
Sampah
organik yang membusuk apabila tidak di kubur dapat menyebabkan pencemaran udara atau
bau yang tidak sedap.
3.
Tumpukan
sampah yang bau dan kotor
dapat mengakibatkan lingkungan kurang enak untuk dipandang.
4.
Menjadi
penyebab menipisnya lapisan ozon. Gas
karbondioksida yang tercipta ketika adanya proses pembakaran sampah dapat memperbesar kemungkinan penipisan lapisan ozon.
Setelah mengetahui dampak positif dan
negatif sampah, seharusnya,
kita sadar akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, khususnya lingkungan
sekolah tempat kita belajar. Apabila lingkungan sekolah bersih, hal itu akan
berdampak bagi warga sekolah antara lain sebagai berikut.
Ø
Terhindar dari penyakit yang
disebabkan lingkungan yang tidak sehat.
Ø
Lingkungan menjadi lebih sejuk.
Ø
Bebas dari polusi udara.
Ø
Air menjadi lebih bersih.
Ø
Warga
sekolah, khususnya guru dan siswa, lebih tenang dalam menjalankan aktivitas belajar mengajar.
Beberapa
cara yang dapat digunakan
untuk menjaga kebersihan sekolah anatara lain sebagai berikut.
1.
Rouse (penggunaan ulang), artinya kita
dapat menggunakan barang yang pernah digunakan. Misalnya, kemasan botol setelah habis digunakan dapat diisi ulang
kembali.
2.
Reduce (mengurangi), artinya mengurangi
penggunaan barang yang dapat menghasilkan sampah. Misalnya, mengganti bungkus makanan yang ada
di kantin dengan bahan yang berasal dari daun atau kertas.
3.
Recycle (mendaur ulang), artinya untuk
mengurangi tumpukan sampah dan pembakaran sampah, kita bisa memanfaatkan sampah untuk membuat kreativitas. Hal itu dapat
digunakan untuk menggali
kreativitas siswa.
Misalnya, sampah
plastik dari botol gelas
bagian atasnya bisa
digunakan untuk membuat tas, sedangkan sampah
daun dan sisa makanan dapat didaur ulang menjadi pupuk kompos.
Untuk
menanggulangi masalah sampah, SMKN 5 Malang melakukan beberapa tindakan di antaranya seperti
berikut.
1.
Menerapkan
sistem nol sampah,
yaitu setiap hari, diberlakukannya
tiket sampah setiap pulang sekolah. Yang dimaksud tiket sampah adalah siswa diwajibkan membawa sampah dari
lingkungan sekolah untuk dimasukkan ke tempat sampah yang sudah disediakan dan
memisahkan antara sampah organik dan anorganik. Sampah yang
berupa plastik dapat didaur
ulang untuk dijadikan sebuah kerajinan. Sampah yang berasal dari sisa makanan
dan daun kering dapat ditimbun
untuk dijadikan pupuk kompos.
2.
Melibatkan
guru untuk memberikan pengarahan terhadap siswa akan pentingnya
membuang sampah pada tempatnya.
Karena guru sangat
berpengaruh penting bagi siswa, guru
diharapkan untuk memberi
wawasan kepada siswa akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya.
3.
Sekolah memasang slogan
kebersihan di banyak tempat strategis dalam sekolah. Diharapkan,
slogan-slogan tersebut dapat menyadarkan siswa akan pentingnya menjaga
kebersihan sekolah. Hal itu membuktikan
bahwa kebersihan sekolah merupakan tanggung jawab seluruh warga sekolah
termasuk siswa.
4.
Dibentuknya Tim Peduli Lingkungan untuk menjaga lingkungan agar tetap
bersih dan memberi sanksi siswa yang membuang sampah sembarangan.
5.
Mengadakan
lomba kebersihan antar kelas. Diharapkan, semua siswa dapat ikut dan terlibat aktif dalam lomba kebersihan
tersebut sehingga diharapkan kesadaran siswa akan muncul dengan sedirinya dalam
menjaga dan merawat kebersihan sekolah.
6.
Mengembangkan
kreativitas siswa
dengan cara memanfaatkan
sampah untuk dijadikan sebuah kerajinan tangan yang berupa hiasan.
7.
Mengadakan
kerja bakti untuk membersihkan
lingkungan yang diikuti
oleh seluruh warga
sekolah.
8.
Menyediakan
tempat sampah di berbagai tempat dengan membedakan jenis sampahnya.
9.
Memberi himbauan
kepada kantin dan warung di lingkungan sekolah agar mengurangi pemakaian
kantong plastik.
Dengan menerapkan beberapa langkah tersebut,
diharapkan jumlah sampah yang ada di sekolah dapat diminimalkan bahkan, kalau bisa, dinolkan. Dengan demikian,
harapan ke depan SMKN 5 Malang akan menjadi sekolah yang bebas sampah, bersih,
asri, dan nyaman. Dampak berikutnya, kegiatan belajar mengajar akan berjalan dengan lancar dan prestasi siswa dapat maksimal.
Sebagai bagian
akhir tulisan ini, penulis mengajak kepada seluruh pembaca untuk selalu menjaga
kebersihan lingkungan masing-masing. Marilah, kita ciptakan budaya bersih dalam diri kita. Jagalah, lingkungan di sekitar kita agar
tetap bersih dan terawat karena lingkungan tersebut yang kelak akan kita wariskan kepada generasi mendatang. Kalau bukan kita yang
menjaga dan merawat, siapa lagi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar